
Saat Takwa Jadi Bunga Kehidupan
Oleh Abu Azky An Nehriri
SIAPA tak kenal Kota Bogor? Sejumlah gelar dimiliki kota itu. Ada yang menyebutnya sebagai "Kota Asinan", ada juga yang menyebutnya sebagai "Kota Talas". Gelar paling terkenal dari salah satu kota penyangga Ibukota itu adalah "Kota Hujan". Gelar terakhir inilah yang membuat ketakutan tersendiri bagi orang Jakarta, terutama saat musim penghujan. Bagaimana tidak, pada musim ini, orang Jakarta hampir selalu mendapatkan jatah banjir berkat hujan yang dieksport kota itu.
Bagi saya, Kota Bogor menyimpan kesan tersendiri, terutama saat menyempatkan diri berkunjung ke rumah salah seorang sahabat. Saat itu, Kota Bogor yang terasa sejuk semakin terasa sejuk, terlebih saat menyaksikan kenyataan yang dialami sahabat tadi. Kesejukan itu terasa menyelusup ke sela-sela ruang batin yang sangat dalam.
Ada pengakuan dalam batin ini, sahabat tadi berhasil menjalani kehidupannya. Bagaimana tidak, lima tahun selepas kuliah ia berhasil didampingi istri shalihah beserta seorang putri berumur dua tahun dan sebuah rumah permanen yang dikelilingi duabelas petak sawah miliknya yang cukup luas. Masing-masing petak sawah, saat itu, terisi dengan ikan-ikan yang demikian banyak dan besar-besar. Sahabat tadi pun mengaku bahwa ia memiliki simpanan sekian juta rupiah di bank.
Awalnya, bagi saya, kenyataan itu agak aneh. Bisakah seorang guru honorer dengan gaji beberapa ratus ribu saja memiliki kekayaan demikian, terutama ketika kekayaan batin mengiringi semua itu?
Mengiringi kenyataan agak aneh itu, akhirnya bibir saya pun berucap meminta rahasia keberhasilannya. Dengan penuh senyum, sahabat tadi mencoba bercerita apa yang ia alami.
Selepas menjalani kuliah, ada semacam kesadaran mendalam yang menyelimuti pikiran sahabat tadi. Pikirnya, ilmu yang ia dapat selama kuliah tidak akan pernah cukup dijadikan modal menjalani kehidupan. Karenanya, buah pertama dari kesadarannya adalah ia kembali membuka dan mengkaji Al-Quran dan kitab-kitab hadits yang ia miliki. Hasilnya, penyerahan total terhadap segala ketentuan Allah Swt, baik ketentuan berupa perintah maupun dalam larangan.
Jika ketentuan Allah mengharuskan semua manusia hanya menuhankan Allah, maka ia berupaya semaksimal mungkin untuk tidak sekali-kali berbuat musyrik. Jika Allah menghendaki ketaatan kepada orangtua, maka ia berupaya maksimal untuk tidak pernah menyakiti orangtuanya. Jika Allah menyukai jihad di jalan Allah, sedapat mungkin ia mewujudkan setiap langkah kehidupannya dengan niat berjihad di jalan-Nya. Jika Allah senang dengan seorang hamba yang menyucikan-Nya di sepertiga malam terakhir, maka sahabat tadi berupaya untuk tidak pernah meninggalkan shalat malam dan shalat-shalat sunat lainnya. Jika Allah meminta berbuat baik terhadap tetangga, lingkungan, alam, dan sebagainya, maka ia sang sahabat berupaya untuk mewujudkannya serta tidak merusak lingkungan yang ada. Jika Allah meminta semua manusia beribadah hanya kepada-Nya, maka ia berupaya untuk menanamkan nilai keikhlasan dalam setiap perbuatannya, dan tidak berupaya untuk tidak pernah mengundang penyakit-penyakit hati untuk bersemayam dalam hatinya.
Demikian seterusnya, hingga hal yang sangat kecil. Seperti tidak membuang sampah sembarangan dan mengambil duri sekecil apapun dari jalan.
Hanya gelengan kepala yang mampu saya lakukan ketika mengikuti perjalanan cerita sahabat tadi. Ternyata, masih ada manusia yang memiliki nilai luar biasa seperti itu, di tengah segala kecarutmarutan system yang dibuat manusia modern. Saya bersyukur bahwa yang memiliki nilai itu adalah sahabat saya.
Bagi saya, sahabat tadi menjadi salah satu bukti kebenaran janji Allah bahwa hanya jaminan kenikmatan hidup bagi siapapun yang mengupayakan ketakwaan hadir dalam dirinya. Firman Allah, Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar (dari semua permasalahan) dan mengaruniakan kepadanya rezeki dari tempat yang tidak terduga. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya.
Hingga kini, sahabat tadi menjadi salah satu motivasi terbesar dalam kehidupan saya. Anda ikut? Wallahua'lam***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar